Pembiayaan

Genap 21 tahun berdiri, SMF Perkuat Peran Strategis dalam Menjaga Likuiditas Pembiayaan Perumahan

Sepanjang Semester I 2026, penyaluran pembiayaan Perseroan mencapai Rp14,09 triliun.

JAKARTA, KabarProperti.id – Memasuki usia 21 tahun, PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF terus memperkuat perannya sebagai penyedia likuiditas sekaligus alat fiskal Pemerintah dalam mendukung keberlanjutan sektor pembiayaan perumahan nasional. Di tengah dinamika perekonomian dan meningkatnya kebutuhan pendanaan jangka panjang, SMF secara konsisten menjalankan mandat untuk menjaga pasar pembiayaan perumahan tetap likuid, stabil, dan efisien.

Sampai dengan Juni 2026, SMF telah membukukan akumulasi penyaluran pembiayaan sebesar Rp141,61 triliun. Khusus sepanjang Semester I 2026, penyaluran pembiayaan Perseroan mencapai Rp14,09 triliun. Dukungan tersebut disalurkan kepada lembaga keuangan penyalur pembiayaan perumahan guna memperkuat kapasitas penyaluran kredit pemilikan rumah kepada masyarakat.

Direktur Utama SMF, Ananta Wiyogo, mengatakan bahwa capaian tersebut mencerminkan semakin kuatnya peran SMF dalam menjembatani kebutuhan pendanaan jangka panjang sektor perumahan.

“SMF terus berupaya memastikan tersedianya likuiditas jangka panjang bagi lembaga keuangan penyalur pembiayaan perumahan. Peran ini menjadi semakin penting karena pembiayaan perumahan memiliki karakteristik jangka panjang, sementara sumber pendanaan lembaga keuangan pada umumnya berjangka lebih pendek,” ujar Ananta.

SMF

Selain melalui penyaluran pembiayaan, SMF menjalankan fungsi sebagai liquidity provider melalui sekuritisasi aset kredit perumahan. Hingga Juni 2026, Perseroan telah memfasilitasi 17 transaksi sekuritisasi dengan nilai akumulasi mencapai Rp14,21 triliun. Sekuritisasi memungkinkan lembaga keuangan melakukan recycle atas aset kredit perumahan menjadi sumber likuiditas baru sehingga kapasitas penyaluran pembiayaan dapat terus ditingkatkan.

BACA JUGA : SMF Pertahankan Kinerja Baik Sepanjang 2025​

Dalam menjalankan fungsi sebagai alat fiskal Pemerintah, SMF juga berperan menyediakan dana pendamping sebesar 25% dalam Program Kredit Pemilikan Rumah Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan atau KPR FLPP. Pendanaan tersebut berasal dari skema blended finance antara Penyertaan Modal Negara (PMN) dan dana hasil penerbitan surat utang SMF.

Hingga Juni 2026, akumulasi PMN yang diterima SMF untuk mendukung Program KPR FLPP mencapai Rp17,91 triliun. Dana tersebut berhasil dioptimalkan melalui pendanaan dari SMF sehingga menghasilkan total penyaluran sebesar Rp36,77 triliun untuk mendukung pembiayaan 962.650 unit rumah.

Seluruh Penyertaan Modal Negara yang diterima Perseroan telah disalurkan sampai dengan Juni 2026. Optimalisasi tersebut menunjukkan kemampuan SMF dalam meningkatkan kapasitas pembiayaan perumahan sekaligus membantu mengurangi kebutuhan dukungan langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Setiap dana Pemerintah yang dipercayakan kepada SMF harus mampu memberikan manfaat yang lebih besar. Melalui skema pendanaan yang terukur dan berkelanjutan, SMF tidak hanya menyalurkan dana, tetapi juga menciptakan kapasitas pembiayaan baru yang dapat menjangkau lebih banyak masyarakat,” tambah Ananta.

Sektor perumahan memberikan dampak yang luas terhadap perekonomian. Berdasarkan kajian SMF bersama konsultan, setiap investasi sebesar Rp1 triliun pada sektor perumahan diperkirakan dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto sekitar Rp1,83 triliun dan menciptakan efek berganda terhadap sedikitnya 185 sektor ekonomi lainnya. Investasi tersebut juga berpotensi berkontribusi terhadap pengurangan kemiskinan dan peningkatan aktivitas ekonomi pada sektor kesehatan serta pendidikan.

Kinerja Keuangan Tetap Terjaga

Penguatan peran SMF turut ditopang oleh kondisi keuangan Perseroan yang sehat. Penguatan peran SMF ditopang oleh kinerja keuangan yang tetap terjaga. Hingga Juni 2026, total aset Perseroan mencapai Rp68,29 triliun, meningkat 21,79% dibandingkan posisi Juni 2025 sebesar Rp56,07 triliun. Liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp40,35 triliun, meningkat 14,23% dibandingkan Juni 2025.

Sementara itu, ekuitas tumbuh 34,65% dibandingkan Juni 2025 menjadi Rp27,95 triliun.

Sepanjang Semester I 2026, SMF membukukan pendapatan sebesar Rp1,70 triliun, meningkat 6,25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,60 triliun.

Dengan pertumbuhan pendapatan yang disertai pengendalian beban, laba bersih Perseroan meningkat 33,90% dibandingkan Juni 2025 menjadi Rp391 miliar pada Juni 2026. Kualitas aset juga tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan net sebesar 0,00%.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko SMF, Bonai Subiakto, mengatakan bahwa kondisi keuangan yang sehat menjadi fondasi penting bagi Perseroan untuk menjalankan mandat secara berkelanjutan.

“Pelaksanaan mandat sebagai penyedia likuiditas dan alat fiskal harus ditopang oleh struktur keuangan yang sehat, sumber pendanaan yang terdiversifikasi, serta pengelolaan risiko yang disiplin. Kami terus menjaga keseimbangan antara ekspansi penyaluran, kecukupan likuiditas, kualitas aset, dan kemampuan Perseroan dalam memenuhi seluruh kewajiban keuangan secara tepat waktu,” ujar Bonai.

Perseroan membukukan return on equity sebesar 3,18%, debt-to-equity ratio sebesar 1,75 kali, serta profit margin sebesar 22,89%. Capaian tersebut menunjukkan kemampuan SMF dalam menjaga keseimbangan antara pelaksanaan mandat pembangunan dan penerapan prinsip kehati-hatian.

Kepercayaan terhadap kondisi keuangan dan peran strategis SMF juga tercermin dari peringkat kredit Perseroan. Di tengah tantangan ekonomi dan dinamika global, pada bulan April 2026 SMF berhasil mempertahankan rating internasional BBB dengan outlook stable dari S&P Global.

Dari sisi rating domestik, SMF juga berhasil menjaga rating idAAA dari Pefindo dan AAA dari Fitch Ratings. Di sisi aspek tata kelola, penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau GCG SMF memperoleh predikat “Sangat Baik” berdasarkan penilaian BPKP.

Strategi Memperkuat Pembiayaan Perumahan

Dalam memperkuat perannya di sektor pembiayaan perumahan, SMF menjalankan tiga strategi utama, yaitu mendukung program Pemerintah, menyediakan likuiditas bagi lembaga penyalur kredit perumahan, serta mendorong daur ulang aset atau asset recycle.

Direktur Bisnis SMF, Heliantopo, mengatakan bahwa ketiga strategi tersebut saling melengkapi dalam membangun ekosistem pembiayaan perumahan yang berkelanjutan.

“Strategi bisnis SMF diarahkan pada tiga fokus utama. Pertama, mendukung program Pemerintah melalui penyediaan likuiditas untuk porsi 25% KPR Subsidi FLPP. Kedua, memperkuat kapasitas lembaga penyalur kredit perumahan melalui penyediaan pembiayaan. Ketiga, mendorong asset recycling melalui sekuritisasi, baik dengan skema true sale maupun non-true sale,” kata Heliantopo.

Menurut Heliantopo, kebutuhan pembiayaan perumahan yang besar memerlukan dukungan dari berbagai sumber pendanaan dan instrumen pasar keuangan. Oleh karena itu, SMF terus memperluas kemitraan dengan perbankan dan lembaga keuangan serta mendorong pengembangan pasar pembiayaan sekunder perumahan.

“Penyediaan likuiditas jangka panjang memungkinkan lembaga keuangan untuk meningkatkan kapasitas penyaluran kredit perumahan. Sementara itu, sekuritisasi memungkinkan aset kredit perumahan diubah menjadi sumber likuiditas baru yang dapat kembali digunakan untuk membiayai kebutuhan perumahan masyarakat,” tambah Heliantopo.

Menandai perjalanan 21 tahun Perseroan, SMF berkomitmen untuk terus menjadi institusi yang adaptif, tangguh, dan konsisten dalam mewujudkan harapan masyarakat akan hunian yang layak dan terjangkau.

“Usia 21 tahun menjadi momentum bagi SMF untuk semakin memperkuat kontribusi. Kami akan terus berkolaborasi dengan Pemerintah, regulator, perbankan, pasar modal, serta seluruh pemangku kepentingan dalam membangun sistem pembiayaan perumahan yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tutup Ananta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button