Market

Sektor Perkantoran Jakarta Kuartal II-2026 Mulai Menguat, Okupansi Naik di Tengah Terbatasnya Pasokan Baru

Didorong oleh perusahaan yang mencari gedung dengan kualitas lebih baik, lokasi strategis, dan efisiensi operasional yang lebih tinggi.

JAKARTA, KabarProperti.id – Pasar perkantoran Jakarta pada Kuartal II-2026 menunjukkan sinyal pemulihan yang semakin nyata. Kenaikan tingkat okupansi, terbatasnya pasokan baru, serta tren relokasi ke gedung berkualitas tinggi (flight-to-quality) menjadi faktor utama yang mendorong perbaikan kinerja sektor ini.

Berdasarkan riset PT Leads Property Services Indonesia (Leads Property), total pasokan ruang perkantoran di Jakarta pada Kuartal II-2026 mencapai 11,6 juta meter persegi, bertambah sekitar 33.330 meter persegi dibandingkan kuartal sebelumnya. Tingkat okupansi tercatat naik menjadi 74,5%, sementara permintaan kuartalan mencapai 31.782 meter persegi. Harga sewa rata-rata berada di kisaran Rp300.735 per meter persegi per bulan.

Untuk keseluruhan tahun 2026, Leads Property memproyeksikan total pasokan meningkat menjadi 11,7 juta meter persegi, dengan tingkat okupansi mencapai 75,3%. Permintaan tahunan diperkirakan berada pada rentang 85.000–95.000 meter persegi, sedangkan harga sewa diprediksi relatif stabil di kisaran Rp300.750 per meter persegi per bulan.

Menurut Darsono Tan, Managing Director Leads Property, saat Media Breafing di Halo Space @ Indonesia Stock Exchange Building, Kamis (18/6), pasar perkantoran saat ini mulai menunjukkan arah yang lebih positif meskipun pelaku usaha masih menerapkan strategi ekspansi yang selektif.

BACA JUGA : Tren Kantor Masa Depan: Fleksibilitas, Teknologi AI, dan Kawasan Mixed-Use Jadi Penentu Utama

“Kami melihat tren permintaan ruang kantor mulai meningkat secara bertahap, terutama didorong oleh perusahaan yang mencari gedung dengan kualitas lebih baik, lokasi strategis, dan efisiensi operasional yang lebih tinggi. Tren flight-to-quality masih menjadi faktor utama yang membentuk dinamika pasar perkantoran Jakarta saat ini,” ujar Darsono Tan.

Perkantoran Jakarta

Leads Property sebelumnya juga mencatat bahwa tren perpindahan penyewa menuju gedung dengan kualitas lebih baik telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir dan terus berlanjut seiring kebutuhan perusahaan terhadap efisiensi dan peningkatan kualitas lingkungan kerja.

Pasokan Baru Terbatas Dorong Kenaikan Okupansi

Dari sisi pasokan, Leads Property mencatat tambahan ruang kantor baru masih relatif terbatas. Salah satu proyek yang akan menambah stok ruang perkantoran Jakarta adalah Dipo Tower 2 yang dijadwalkan masuk pasar pada paruh kedua 2026.

Kondisi minimnya pasokan baru diperkirakan menjadi katalis positif bagi peningkatan tingkat okupansi. Dengan jumlah gedung baru yang terbatas, ruang kosong yang ada di pasar berpotensi terserap secara bertahap oleh penyewa yang melakukan ekspansi maupun relokasi.

“Keterbatasan pasokan baru memberikan ruang bagi pasar untuk melakukan penyerapan yang lebih sehat. Hal ini berpotensi mendorong kenaikan tingkat okupansi secara bertahap sepanjang tahun,” kata Darsono.

BACA JUGA : Halo Space Hadir di SCBD, Tawarkan Pengalaman Ruang Kerja Berkelas Bagi perusahaan, Startup, hingga Profesional Modern

Harga Sewa Diproyeksi Stabil

Meski tingkat okupansi menunjukkan perbaikan, persaingan antar pemilik gedung masih cukup ketat. Oleh karena itu, Leads Property memperkirakan harga sewa perkantoran belum akan mengalami kenaikan signifikan dalam waktu dekat.

“Pemilik gedung masih berfokus menjaga daya saing melalui berbagai insentif dan fleksibilitas komersial. Karena itu, harga sewa cenderung stabil meskipun kondisi pasar mulai membaik,” jelas Darsono.

Proyeksi ini sejalan dengan pandangan Leads Property yang memperkirakan tarif sewa tetap bergerak stabil di tengah terbatasnya pasokan baru dan meningkatnya aktivitas pencarian ruang kantor.

Tantangan Sektor Perkantoran 2026

Di tengah prospek pemulihan, sektor perkantoran masih menghadapi sejumlah tantangan.

Pertama, banyak perusahaan masih menunda keputusan ekspansi maupun renovasi kantor karena meningkatnya biaya fit-out dan ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini membuat sebagian perusahaan memilih menunggu sebelum mengambil keputusan investasi ruang kerja baru.

Kedua, risiko tingkat kekosongan ruang kantor masih cukup tinggi mengingat stok ruang yang belum terserap masih tersedia dalam jumlah besar di sejumlah kawasan bisnis.

Ketiga, pertumbuhan pembangunan gedung perkantoran premium dan high-rise di kawasan Central Business District (CBD) diperkirakan melambat. Sejumlah proyek baru berpotensi mengalami penundaan jadwal ground breaking karena pertimbangan pasar dan investasi.

Keempat, investasi pembangunan gedung perkantoran di kawasan CBD semakin selektif karena tingkat pengembalian investasi yang dinilai kurang menarik dibandingkan segmen properti lainnya serta periode pengembalian modal yang lebih panjang.

Peluang Baru di Tengah Perubahan Pasar

Meskipun menghadapi tantangan, Leads Property melihat sejumlah peluang yang dapat dimanfaatkan pelaku industri. Permintaan terhadap flex office, furnished office, co-working space, serta gedung perkantoran Grade B yang terawat dan berada di lokasi strategis diperkirakan meningkat karena menawarkan efisiensi biaya bagi perusahaan.

Selain itu, kondisi pasar yang masih kompetitif memberikan ruang negosiasi yang lebih besar bagi penyewa ketika masa sewa berakhir. Penyewa memiliki peluang memperoleh harga maupun insentif yang lebih menarik dibandingkan beberapa tahun lalu.

Leads Property juga melihat mulai munculnya konsep low-to-mid rise office building dengan pendekatan campus style di kawasan pinggiran Jakarta dan kota-kota pelajar. Model ini dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan yang mengutamakan efisiensi biaya dan lingkungan kerja yang lebih fleksibel.

Peluang lainnya datang dari tren owner-occupier, yaitu perusahaan yang membeli gedung untuk kebutuhan sendiri dan menyewakan ruang yang belum digunakan guna mengoptimalkan aset mereka.

“Pasar perkantoran sedang memasuki fase penyesuaian baru. Perusahaan semakin fokus pada efisiensi, kualitas gedung, dan fleksibilitas ruang kerja. Pemilik gedung yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan tersebut akan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan tingkat hunian dan mempertahankan daya saing,” tutup Darsono Tan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button