Event

“Touch This Earth Lightly”: Refleksi Arsitek Pritzker tentang Masa Depan Arsitektur Berkelanjutan ASEAN

Arsitektur ASEAN diarahkan menuju masa depan yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan berakar pada kearifan lokal.

JAKARTA, KabarProperti.id – Di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur dan urbanisasi Asia Tenggara, arsitektur berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak. Filosofi “Touch this earth lightly” yang diperkenalkan arsitek peraih Pritzker Architecture Prize, Glenn Murcutt, kembali relevan sebagai panduan membangun tanpa merusak alam dan identitas lokal.

Prinsip ini menekankan bahwa bangunan ideal harus beradaptasi dengan lingkungan, meminimalkan jejak karbon, serta menghormati budaya setempat.

Isu tersebut mengemuka dalam simposium arsitektur ASEAN di Jakarta bertajuk “Shaping Resilient Futures: Heritage and Modernity in Steel Architectural Design”, yang dihadiri sekitar 190 arsitek dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia.

BACA JUGA: BlueScope dan Universitas Multimedia Nusantara Bersinergi Pangkas Emisi melalui Konstruksi Hijau

Dalam forum tersebut, Ar. Nick Sissons dari Glenn Murcutt Architecture Foundation menyoroti pentingnya menerjemahkan filosofi Murcutt secara kontekstual di kawasan tropis ASEAN. Sementara itu, Ar. Budi Pradono (IAI) menegaskan kolaborasi regional sebagai kunci menghadapi tantangan perubahan iklim dan urbanisasi.

Diskusi juga menyoroti peran baja modern sebagai material pendukung arsitektur berkelanjutan. Country President PT NS BlueScope Indonesia, Jenny Margiano, menyebut baja memiliki keunggulan dapat didaur ulang hingga 100 persen, fleksibel, dan tahan terhadap iklim ekstrem—selaras dengan prinsip ekonomi sirkular ASEAN.

Momentum ini sekaligus menandai peluncuran Steel Architectural Awards ASEAN 2026, ajang apresiasi karya arsitektur inovatif yang mengintegrasikan desain, keberlanjutan, dan konteks lokal. Penilaian akan melibatkan juri lintas negara dan berfokus pada dampak jangka panjang bagi lingkungan dan komunitas.

Melalui filosofi “sentuhan lembut pada bumi”, arsitektur ASEAN diarahkan menuju masa depan yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan berakar pada kearifan lokal.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button