Market

Menelisik Peluang di Tengah Tantangan Sektor Properti yang Meningkat

Tantangan menciptakan sejumlah peluang baru.

JAKARTA, KabarProperti.id – Tantangan yang dihadapi sektor properti semakin meningkat. Banyak faktor menjadi penyebabnya. Antara lain pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga dinilai masih menimbulkan perdebatan. Sebagian pihak mempertanyakan kualitas pertumbuhan ekonomi yang banyak ditopang konsumsi domestik. Pertumbuhan Penanaman Modal Asing (PMA), inflasi, hingga aktivitas manufaktur juga menunjukkan tren yang perlu diwaspadai.

Dari sisi pasokan (supply), pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya konstruksi karena banyak material dan komponen bangunan masih bergantung pada impor. Kondisi ini dapat menekan margin pengembang sekaligus memengaruhi spesifikasi proyek yang akan dibangun.

BACA JUGA : Leads Property: Pasar Properti Kuartal III 2025 Menunjukkan Tren Positif di Sejumlah Sektor, Industrial dan Perkantoran jadi Penggerak Utama

Walau tantangan meningkat, menurut PT Leads Property Services Indonesia, ada peluang yang bisa digarap. “Kondisi saat ini menuntut para pelaku industri properti untuk melakukan adaptasi strategi secara cepat, ” ujar Martin Samuel Hutapea, Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property saat Media Breafing di Halo Space @ Indonesia Stock Exchange Building, Kamis (18/6).

Apa saja peluang tersebut menurut Leads Property? Di sektor hunian rumah tapak dan kondominium, unit ready stock dengan harga lama akan lebih terserap. Sektor perkantoran, permintaan terhadap flex office, furnished office, co-working serta grade B yang terawat dan berada di lokasi strategis meningkat karena efesiensi biaya.

Lalu sektor retail, mal konsep retail compound dengan banyak ruang terbuka akan lebih realistis dibangun karena biaya pembangunan, biaya operasional dan perawatan yang lebih rendah, serta mudah dialihfungsikan di kemudian hari.

Kemudian sektor hotel, operator hotel akan memfokuskan diri pada wisatawan mancanegara sebagai sumber permintaan. Sedangkan sektor industri, permintaan sewa bangunan pabrik siap pakai dan pergudangan meningkat.

Peluang ceruk properti berbasis sewa (rental-based property) juga semakin besar. Ketika biaya modal membengkak dan fluktuasi bunga mengambang (floating rate) perbankan sulit diprediksi, model transaksi sewa menyajikan fleksibilitas finansial yang rasional untuk bertahan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button