Sektor Rumah Tapak Kuartal II-2026 Tetap Tangguh, Pasokan dan Permintaan Tumbuh Seimbang
Leads Property menilai prospek sektor rumah tapak hingga akhir 2026 masih positif.

JAKARTA, KabarProperti.id – Pasar rumah tapak di Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat sepanjang kuartal II-2026. Berdasarkan riset PT Leads Property Services Indonesia (Leads Property), pertumbuhan pasokan dan permintaan bergerak relatif seimbang, sehingga tingkat penjualan tetap tinggi di tengah berbagai tantangan ekonomi dan pembiayaan yang dihadapi sektor properti.
Leads Property merupakan perusahaan konsultan properti yang menyediakan layanan riset dan konsultasi pasar properti di Indonesia.
Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property, Martin Samuel Hutapea, mengatakan bahwa sektor rumah tapak masih menjadi pilihan utama masyarakat, terutama di kawasan penyangga Jakarta yang didukung kebutuhan hunian end-user dan perkembangan infrastruktur.
“Pasar rumah tapak masih menunjukkan performa yang cukup baik. Pertumbuhan pasokan dan permintaan berlangsung relatif seimbang sehingga tingkat penjualan tetap stabil. Kawasan suburban Jakarta masih menjadi motor utama pertumbuhan pasar hunian,” ujar Martin Samuel Hutapea.
Pasokan Rumah Tapak Tembus 201 Ribu Unit
Data Leads Property mencatat total pasokan rumah tapak pada kuartal II-2026 mencapai 201.646 unit, bertambah sekitar 2.701 unit dibandingkan kuartal sebelumnya (QoQ).
Sementara itu, permintaan kuartalan tercatat meningkat sebesar 2.585 unit, menunjukkan bahwa pasar masih mampu menyerap tambahan pasokan yang masuk ke pasar.
Tingkat penjualan (sales rate) juga tetap tinggi di level 93,7%, mencerminkan minat konsumen yang masih kuat terhadap produk rumah tapak. Di sisi lain, harga jual rata-rata berada pada kisaran Rp2,7 miliar per unit, relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya.
Menurut Martin, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar hunian tapak masih berada dalam fase yang sehat. “Pertumbuhan pasokan yang diimbangi permintaan membuat tingkat penjualan relatif stabil. Pengembang juga cenderung menjaga harga agar tetap dapat diterima pasar sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang terlalu agresif,” katanya.
Proyeksi 2026: Pasokan Bertambah, Penjualan Tetap Tinggi
Memasuki akhir tahun 2026, Leads Property memproyeksikan pasokan kumulatif rumah tapak mencapai 209.748 unit, atau bertambah sekitar 13.211 unit secara tahunan (YoY).
Di saat yang sama, permintaan tahunan diperkirakan berada pada kisaran 12.000–13.000 unit, sehingga tingkat penjualan diprediksi tetap stabil di sekitar 93,8%. Harga jual rata-rata juga diperkirakan bertahan pada level Rp2,7 miliar per unit.
Martin menjelaskan bahwa peningkatan pasokan masih akan terkonsentrasi di wilayah Tangerang dan kawasan suburban Jakarta lainnya yang memiliki akses infrastruktur semakin baik.
“Permintaan rumah tapak masih didominasi kawasan Tangerang dan berasal dari segmen menengah dengan rentang harga sekitar Rp500 juta hingga Rp2 miliar. Segmen ini masih menjadi pasar terbesar dan paling aktif,” jelasnya.
BACA JUGA : Inilah Performa Pasar Properti Jakarta Kuartal I 2024 Menurut Leads Property
Tantangan Sektor Rumah Tapak
Meski kinerja pasar masih positif, Leads Property mengidentifikasi sejumlah tantangan yang berpotensi memengaruhi sektor hunian ke depan.
Pertama, meningkatnya biaya konstruksi membuat harga jual hunian cenderung naik, sementara margin pengembang semakin tertekan. Kondisi ini berpotensi mendorong pengembang melakukan penyesuaian spesifikasi produk (down-spec) agar harga tetap kompetitif.
Kedua, sejumlah pengembang menunda peluncuran proyek baru akibat ketidakpastian daya beli masyarakat dan potensi perubahan skema pembiayaan proyek.
Ketiga, pembiayaan proyek melalui pinjaman bank menjadi semakin menantang karena biaya bunga yang lebih tinggi.
Selain itu, Leads Property juga mencatat adanya penurunan aplikasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) karena sebagian calon pembeli lebih berhati-hati terhadap kondisi ekonomi, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), dan tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi.
“Pembiayaan menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati. Baik pengembang maupun konsumen saat ini lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi maupun pembelian rumah,” kata Martin.
Tantangan lain yang muncul adalah semakin terbatasnya pengembangan berskala township, meningkatnya biaya transportasi harian yang membuat lokasi jauh dari pusat aktivitas kurang diminati, serta keterbatasan material dan produk impor pada segmen rumah mewah.
Peluang Baru di Tengah Perubahan Pasar
Di balik berbagai tantangan tersebut, Leads Property melihat sejumlah peluang yang dapat dimanfaatkan pengembang maupun investor. Salah satunya adalah meningkatnya daya tarik unit rumah siap huni (ready stock). Produk yang masih menggunakan harga lama berpotensi lebih cepat terserap pasar dibandingkan proyek baru yang harus menyesuaikan kenaikan biaya konstruksi.
Pasar properti sekunder juga diperkirakan semakin diminati karena konsumen dapat langsung menempati hunian di lokasi yang sudah berkembang.
Selain itu, Martin melihat tren kerja sama pengembangan melalui skema joint venture (JV) dan kerja sama operasi (KSO) akan semakin banyak dilakukan oleh pengembang lokal maupun asing untuk mengurangi risiko proyek dan memperkuat permodalan.
“Kolaborasi antar-pengembang akan menjadi salah satu strategi yang semakin banyak ditemui dalam beberapa tahun ke depan, terutama untuk menjaga efisiensi dan memperkuat daya saing proyek,” ujarnya.
Tren Hunian Bergeser ke Cluster dan Kawasan TOD
Leads Property juga mencatat perubahan arah pengembangan hunian. Pengembang diperkirakan semakin fokus pada proyek skala townhouse dan cluster, yang dinilai lebih efisien dibandingkan pengembangan township berskala besar.
Di sisi lain, kawasan yang terintegrasi dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) diproyeksikan menjadi semakin diminati seiring meningkatnya biaya mobilitas masyarakat.
“Pengembang mulai membidik lahan yang dekat dengan kawasan TOD karena aksesibilitas menjadi salah satu pertimbangan utama konsumen saat membeli rumah,” tutur Martin.
Selain faktor lokasi, tren rumah hemat energi juga diprediksi semakin berkembang. Menurut Leads Property, konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan ukuran dan kemewahan rumah, tetapi juga efisiensi biaya operasional jangka panjang.
Outlook: Pasar Tetap Stabil Hingga Akhir Tahun
Secara keseluruhan, Leads Property menilai prospek sektor rumah tapak hingga akhir 2026 masih positif. Keseimbangan antara pasokan dan permintaan diperkirakan mampu menjaga tingkat penjualan tetap tinggi, sementara harga cenderung bergerak stabil.
“Fundamental pasar rumah tapak masih cukup kuat. Selama pengembang mampu menghadirkan produk yang sesuai kebutuhan pasar dan lokasi yang tepat, peluang pertumbuhan masih terbuka lebar,” pungkas Martin Samuel Hutapea.
Pasar Rumah Super Premium
Pasar rumah super premium, seperti yang dipasarkan NavaPark BSD City yang harganya hingga Rp150 miliar, dinilai Hendra Hartono, Co-Founder and Chief Executive Officer (CEO) Leads Property, sangat terbatas dan kasuistis. Hal itu tidak bisa dianggap bahwa pasar rumah premium seharga itu banyak diminati sehingga pengembang berlomba-lomba membangun.
“Untuk NavaPark, itu lokasinya yang terakhir, tidak ada lagi, sehingga harganya bisa setinggi itu. Kalau di tempat lain belum tentu bisa. Jadi jangan disamaratakan,” ujar Hendra Hartono.




