Market

Leads Property : Kondominium Ready Stock dengan Harga Lama Lebih Diminati

Pasar kondominium Jakarta pada 2026 masih bergerak dalam fase stabil dengan kecenderungan membaik.

JAKARTA, KabarProperti.id– Pasar kondominium di Jakarta mulai menunjukkan sinyal pemulihan pada Kuartal II-2026. Meskipun masih dibayangi sejumlah tantangan seperti tingginya biaya konstruksi, keterbatasan pembiayaan, dan kehati-hatian konsumen dalam mengambil kredit pemilikan apartemen (KPA), sektor hunian vertikal dinilai memiliki peluang pertumbuhan yang semakin terbuka.

Berdasarkan riset PT Leads Property Services Indonesia (Leads Property), pasokan kondominium pada Kuartal II-2026 tercatat mencapai 260.236 unit, meningkat 336 unit dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, permintaan kuartalan mencapai 203 unit dengan tingkat penjualan berada di level 83,2% dan harga jual rata-rata sekitar Rp28,3 juta per meter persegi.

Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property, Martin Samuel Hutapea, saat Media Breafing di Halo Space @ Indonesia Stock Exchange Building, Kamis (18/6) mengatakan pasar kondominium masih memiliki prospek yang cukup baik hingga akhir tahun.

“Permintaan kondominium masih terkonsentrasi di Jakarta Selatan dan didominasi oleh segmen menengah atas. Seiring peningkatan permintaan tahunan, tingkat penjualan diperkirakan akan mengalami kenaikan secara bertahap,” ujarnya.

Leads Property memproyeksikan pada 2026 pasokan kumulatif akan meningkat menjadi sekitar 260.636 unit, sedangkan permintaan tahunan diperkirakan berada pada kisaran 1.000 hingga 1.200 unit. Tingkat penjualan diprediksi naik menjadi 83,4%, sementara harga jual rata-rata berpotensi meningkat ke level Rp28,8 juta per meter persegi.

BACA JUGA : Sektor Retail Jakarta Tetap Stabil pada Kuartal II-2026, F&B dan Brand Asal Tiongkok jadi Penggerak Utama Permintaan

Tantangan Sektor Kondominium dan Hunian 2026

Menurut Leads Property, sektor hunian, termasuk kondominium dan rumah tapak, masih menghadapi sejumlah tantangan yang dapat memengaruhi kinerja pasar sepanjang 2026.

Pertama, kenaikan biaya konstruksi menyebabkan harga jual hunian cenderung meningkat dan margin pengembang semakin tertekan. Kondisi ini berpotensi mendorong pengembang melakukan penyesuaian spesifikasi bangunan untuk menjaga profitabilitas proyek.

Kedua, ketidakpastian daya beli masyarakat membuat sebagian pengembang menunda peluncuran proyek baru. Situasi tersebut diperburuk oleh potensi perubahan kebijakan pembiayaan yang membuat pengembang lebih berhati-hati dalam mengeksekusi proyek.

Ketiga, akses pembiayaan proyek yang semakin ketat dan biaya bunga yang lebih tinggi membuat pengembang menghadapi tantangan dalam memperoleh pendanaan dari perbankan.

Selain itu, pengajuan KPA juga diperkirakan mengalami perlambatan karena calon pembeli cenderung menahan keputusan pembelian akibat kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), dan tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi.

Leads Property juga mencatat meningkatnya biaya transportasi membuat hunian yang jauh dari pusat aktivitas dan kawasan transit oriented development (TOD) berpotensi kurang diminati.

BACA JUGA : Sektor Perkantoran Jakarta Kuartal II-2026 Mulai Menguat, Okupansi Naik di Tengah Terbatasnya Pasokan Baru

Peluang Baru di Tengah Perubahan Pasar

Di balik berbagai tantangan tersebut, Leads Property melihat sejumlah peluang yang dapat dimanfaatkan pengembang maupun investor properti. Salah satunya adalah meningkatnya minat terhadap unit ready stock.

Kenaikan harga properti baru membuat rumah maupun kondominium yang telah tersedia di pasar dengan harga lama menjadi lebih menarik bagi konsumen.

Pasar sekunder juga diperkirakan semakin diminati karena menawarkan hunian yang dapat langsung ditempati tanpa harus menunggu proses pembangunan.

“Tren konsumen saat ini semakin mengutamakan efisiensi dan kepastian. Unit siap huni maupun pasar sekunder memiliki keunggulan karena dapat langsung digunakan dan berada pada lokasi yang sudah terbentuk,” kata Martin.

Peluang lain datang dari semakin banyaknya skema kerja sama pengembangan melalui joint venture (JV) dan kerja sama operasi (KSO) antara pengembang lokal maupun asing untuk mengurangi risiko investasi dan memperkuat struktur pendanaan proyek.

Sementara itu, tren pembangunan di sekitar kawasan TOD diperkirakan semakin kuat seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang memiliki akses transportasi publik yang baik.

Leads Property juga melihat meningkatnya minat terhadap hunian hemat energi. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan kemewahan, tetapi juga efisiensi biaya operasional dan aspek keberlanjutan dalam memilih hunian.

Outlook: Permintaan Segmen Menengah Atas Masih Menjadi Motor Pasar

Secara keseluruhan, Leads Property menilai pasar kondominium Jakarta pada 2026 masih bergerak dalam fase stabil dengan kecenderungan membaik. Permintaan tetap didominasi segmen menengah atas, terutama di wilayah Jakarta Selatan yang masih menjadi pusat aktivitas bisnis dan hunian premium.

Dengan pertumbuhan permintaan tahunan yang diproyeksikan meningkat, tingkat penjualan dan harga jual kondominium diperkirakan mengalami kenaikan secara moderat hingga akhir tahun.

“Kami melihat pasar kondominium masih memiliki ruang pertumbuhan. Permintaan yang meningkat secara bertahap akan mendorong perbaikan tingkat penjualan dan harga jual, khususnya pada proyek yang berada di lokasi strategis dan memiliki aksesibilitas yang baik,” tutup Martin Samuel Hutapea.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button