Market

Pasar Perkantoran Jakarta Masih Tertekan di 2025, Diprediksi Lebih Sehat di 2026

Pasar perkantoran siap menuju keseimbangan baru.

JAKARTA, KabarProperti.id — Pasar perkantoran di Jakarta sepanjang 2025 masih berada dalam fase pemulihan dengan tingkat okupansi yang belum kembali ke level pra-pandemi.

Menurut Martin Samuel Hutapea, Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property Services Indonesia, saat Media Briefing Q3 2025, Kamis (20/11) di Jakarta, kondisi pasar diperkirakan akan bergerak lebih stabil dan sehat pada tahun 2026.

Total Pasokan Mencapai 11,6 Juta m², Didominasi Kawasan CBD

Leads Property mencatat total pasokan ruang perkantoran Jakarta berada di angka 11,6 juta m², dengan dominasi kuat dari kawasan Segitiga Emas (CBD).

BACA JUGA : Leads Property: Pasar Properti Kuartal III 2025 Menunjukkan Tren Positif di Sejumlah Sektor, Industrial dan Perkantoran jadi Penggerak Utama

Sebaran pasokan yakni Jakarta CBD 64% dan pasokan Jakarta Luar CBD 36%. Rata-rata harga sewa kotor yakni CBD Rp331.000/m²/bulan dan Luar CBD Rp240.000/m²/bulan. Rata-rata Jakarta yakni Rp299.000/m²/bulan.

Martin menjelaskan, pasar perkantoran Jakarta masih mengalami tekanan, terutama akibat kompetisi antar wilayah dan perubahan pola kebutuhan ruang kerja pasca pandemi.

Permintaan 18.752 m² Didukung Sektor IT dan Keuangan

Permintaan ruang kantor tahun ini mencapai 18.752 m², didorong oleh sektor IT, Keuangan, Periklanan, Jasa profesional. Tingkat okupansi rata-rata tercatat di angka 75%, sementara ruang yang belum terserap mencapai 3 juta m².

Menurut Martin Samuel Hutapea, permintaan yang muncul sebagian besar berasal dari sektor yang adaptif terhadap teknologi dan transformasi digital. Kondisi ini mempertegas perubahan profil tenant yang kini lebih memprioritaskan efisiensi dan kualitas bangunan.

Outlook Pasar Perkantoran 2026: Stabil, Selektif, dan Semakin Beralih ke Premium

Leads Property melihat sejumlah perubahan struktur pasar yang akan memengaruhi dinamika ruang perkantoran pada tahun 2026.

Antara lain tenant luar-CBD pindah ke gedung CBD berkualitas (Flight-to-Quality). Banyak tenant memilih gedung premium, terutama di CBD, demi kualitas bangunan yang lebih baik, fasilitas modern, dan lokasi lebih strategis dekat transportasi umum (MRT dan LRT).

Sektor pendorong permintaan antara lain Keuangan, IT, FMCG, Logistik, dan Jasa Profesional.

Lalu ruang kantor beralih fungsi. Tren adaptasi fungsi ruang kantor meningkat, dengan permintaan konversi gedung menjadi hotel,serviced apartment, fasilitas pendidikan/kampus, dan klinik kesehatan.

BACA JUGA : Permintaan Gudang dan Pabrik Melonjak, 2026 jadi Tahun Penting Bagi Properti Industrial Indonesia

Kemudian akses transportasi mendorong okupansi. Gedung yang dekat MRT/LRT memiliki tingkat okupansi yang lebih tinggi karena aksesibilitas menjadi faktor utama bagi perusahaan.

Sementara strata title didominasi unit sekunder. Transaksi strata title terutama terjadi di SCBD, dengan dominasi produk sekunder akibat harga yang lebih kompetitif dibanding unit baru.

Pergerakan Pasar Non-CBD: Tangerang Selatan dan PIK Tetap Menjadi Magnet

Selain CBD, kawasan Non-CBD menunjukkan perkembangan menarik yakni Tangerang Selatan. Menjadi pilihan perusahaan fintech dan teknologi karena dekat kampus,populasi tenaga kerja muda,banyak gedung low-rise yang fleksibel.

Bandung dan Yogyakarta masuk radar perusahaan start-up karena dekat pusat pendidikan, UMR lebih rendah dibanding Jakarta.

Tangerang Utara (PIK & PIK 2) menjadi pusat komersial dengan daya tarik kuat bagi perusahaan asal Tiongkok yang membutuhkan lokasi dekat bandara, tidak bergantung konektivitas ke CBD,dan fasilitas lengkap.

Indikator Pasar Perkantoran 2026

Leads Property memproyeksikan pasokan kumulatif stabil di angka 11,6 juta m² (hampir tidak ada pasokan baru). Permintaan kumulatif meningkat ke kisaran 75.000–85.000 m², dan harga sewa kotor stabil di rata-rata Rp299.000/m²/bulan

Pasar Perkantoran Siap Menuju Keseimbangan Baru

Martin Samuel Hutapea menyimpulkan tidak adanya pasokan baru di CBD menjadi sinyal baik bagi pasar. Ini memberi ruang bagi okupansi untuk pulih dan mendorong pasar perkantoran ke arah yang lebih sehat pada 2026. “Tenant akan semakin selektif, dan gedung berkualitas tinggi akan menjadi pemenangnya,” ujarnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button