Market

Sektor Retail Jakarta Tetap Stabil pada Kuartal II-2026, F&B dan Brand Asal Tiongkok jadi Penggerak Utama Permintaan

Landlord diperkirakan akan semakin fleksibel dalam menawarkan skema sewa.

JAKARTA, KabarProperti.id – Kinerja sektor retail Jakarta menunjukkan ketahanan yang kuat pada kuartal II-2026. Tingkat okupansi tetap tinggi di angka 91%, sementara harga sewa cenderung stabil di tengah minimnya tambahan pasokan baru. Kondisi ini mencerminkan bahwa pasar retail masih mampu menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan meskipun menghadapi tantangan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Berdasarkan data PT Leads Property Services Indonesia (Leads Property), total pasokan ruang retail di Jakarta pada kuartal II-2026 tercatat mencapai 3,58 juta meter persegi, tidak mengalami perubahan dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, permintaan kuartalan tercatat sebesar 6.685 meter persegi, dengan tingkat okupansi bertahan di 91% dan rata-rata harga sewa mencapai Rp480.700 per meter persegi per bulan.

Hendra Hartono, Co-Founder and Chief Executive Officer (CEO) Leads Property saat Media Breafing di Halo Space @ Indonesia Stock Exchange Building, Kamis (18/6), mengatakan bahwa pasar retail masih ditopang oleh sektor makanan dan minuman (F&B) yang terus menjadi kontributor utama permintaan ruang usaha.

“Permintaan retail masih relatif stabil. Kategori F&B tetap menjadi pendorong utama pasar, sementara ekspansi brand retail asal Tiongkok juga masih berlangsung dan turut meningkatkan aktivitas penyewaan ruang komersial,” ujar Hendra.

BACA JUGA : Sektor Perkantoran Jakarta Kuartal II-2026 Mulai Menguat, Okupansi Naik di Tengah Terbatasnya Pasokan Baru

Menurutnya, tren ekspansi tenant tersebut menunjukkan bahwa pusat perbelanjaan yang mampu menghadirkan konsep gaya hidup (lifestyle), hiburan, dan kuliner masih menjadi pilihan utama bagi pelaku usaha maupun konsumen.

Pasokan Retail Diperkirakan Bertambah pada Akhir 2026

Leads Property memperkirakan pasokan retail Jakarta akan meningkat pada akhir tahun seiring rencana beroperasinya sejumlah proyek baru. Salah satunya adalah pengembangan retail di kawasan Lippo Mall at Holland Village yang diproyeksikan menambah stok ruang komersial baru.

Untuk keseluruhan tahun 2026, pasokan retail diperkirakan meningkat menjadi 3,61 juta meter persegi, atau bertambah sekitar 60.236 meter persegi secara tahunan (year-on-year).

Di sisi lain, permintaan tahunan diproyeksikan berada pada kisaran 50.000–55.000 meter persegi, sementara tingkat okupansi diperkirakan tetap bertahan di level 91%. Adapun rata-rata harga sewa diprediksi bergerak stabil menjadi sekitar Rp481.000 per meter persegi per bulan.

“Meskipun akan ada tambahan pasokan baru, tingkat okupansi diperkirakan tetap stabil karena permintaan masih cukup baik. Pergerakan harga sewa juga cenderung stabil seiring terjaganya tingkat keterisian pusat perbelanjaan,” kata Martin Samuel Hutapea, Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property.

Tantangan Sektor Retail 2026

Di tengah stabilnya kinerja pasar, sektor retail masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi oleh pengembang maupun pemilik pusat perbelanjaan.

BACA JUGA : Tren Kantor Masa Depan: Fleksibilitas, Teknologi AI, dan Kawasan Mixed-Use Jadi Penentu Utama

Tantangan pertama adalah semakin sulitnya merealisasikan pembangunan proyek mal baru dalam kawasan mixed-use berskala besar. Tingginya biaya konstruksi dan rendahnya tingkat penyerapan pasar membuat pengembangan proyek retail skala besar menjadi lebih selektif.

Selain itu, pelemahan daya beli masyarakat juga menjadi faktor yang perlu dicermati. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sebagian tenant mengalami tekanan bisnis sehingga berpotensi mengurangi tingkat okupansi dan menunda rencana ekspansi.

“Penurunan daya beli dapat memengaruhi kemampuan tenant untuk bertahan dan berkembang. Hal ini menjadi perhatian karena dapat berdampak pada tingkat hunian pusat perbelanjaan,” jelas Martin.

Tantangan lainnya adalah terbatasnya jumlah mal premium yang masih terkonsentrasi di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta. Sementara itu, pusat perbelanjaan konvensional dinilai masih menghadapi kesulitan untuk berkembang ke wilayah dan kota-kota lain.

Peluang Baru dari Konsep Lifestyle dan Retail Compound

Di balik berbagai tantangan tersebut, Leads Property melihat sejumlah peluang yang dapat dimanfaatkan pelaku industri retail.

Salah satunya adalah pengembangan konsep retail compound, yaitu kawasan retail dengan lebih banyak ruang terbuka (open space). Konsep ini dinilai lebih realistis untuk dikembangkan karena membutuhkan biaya pembangunan, operasional, dan perawatan yang lebih rendah dibandingkan pusat perbelanjaan konvensional. Selain itu, aset semacam ini juga lebih mudah dialihfungsikan sesuai kebutuhan pasar di masa mendatang.

Leads Property juga melihat tren peremajaan mal eksisting akan semakin meningkat, terutama pada pusat perbelanjaan yang berada di dekat kawasan Transit Oriented Development (TOD) dan jaringan transportasi massal.

Di sisi tenant, fleksibilitas yang lebih besar dari pemilik gedung diperkirakan akan membuka peluang bagi konsep bisnis baru seperti co-working space, pop-up store, dan berbagai brand lokal untuk masuk ke pusat perbelanjaan kelas menengah atas maupun lokasi strategis.

“Ke depan, landlord diperkirakan akan semakin fleksibel dalam menawarkan skema sewa. Kondisi ini memberikan kesempatan lebih besar bagi tenant baru, termasuk brand lokal, untuk memperluas pasar mereka,” ungkap Hendra.

Mal Berkonsep Lifestyle Diprediksi Tetap Mendominasi

Leads Property menilai pusat perbelanjaan yang mengedepankan konsep lifestyle, F&B, olahraga, dan hiburan akan tetap menjadi magnet utama pengunjung dalam beberapa tahun ke depan. Perubahan perilaku konsumen yang semakin mengutamakan pengalaman (experience) dibandingkan sekadar berbelanja membuat pusat perbelanjaan harus terus bertransformasi menjadi destinasi rekreasi dan gaya hidup.

Dengan kondisi pasar yang relatif stabil, tambahan pasokan yang terukur, serta meningkatnya kebutuhan ruang untuk aktivitas lifestyle dan hiburan, sektor retail Jakarta diperkirakan masih memiliki prospek positif sepanjang 2026.

“Pasar retail sedang bergerak menuju konsep yang lebih fleksibel dan berbasis pengalaman. Pengembang yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen akan memiliki peluang pertumbuhan yang lebih besar,” jelas Hendra.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button