Material/Elektronik

Ketika Gedung Tak Lagi Sekadar Tempat Bernaung, Schneider Electric Berikan Solusi Teknologi Cerdas untuk Bangunan Efesien

Pasar Mulai Mencari Gedung yang Lebih Hijau.

JAKARTA, KabarProperti.id – Jakarta, pagi baru saja dimulai ketika lampu-lampu kantor menyala, pendingin udara mulai bekerja, lift bergerak mengangkut pekerja ke lantai masing-masing, dan berbagai perangkat elektronik mengambil energi dari jaringan listrik. Semua berlangsung nyaris tanpa disadari.

Di balik kenyamanan itu, ada persoalan yang semakin sulit diabaikan: gedung-gedung yang menjadi pusat aktivitas manusia ternyata juga menjadi salah satu sumber tekanan terhadap lingkungan.

Data Schneider Electric menunjukkan sektor bangunan berkontribusi hampir 40 persen terhadap emisi karbon global. Pada saat yang sama, sekitar 30 persen energi di dalam gedung masih terbuang sia-sia. Ironisnya, industri bangunan justru termasuk sektor yang tingkat digitalisasinya masih rendah. Sebanyak 95,5 persen data yang telah dikumpulkan dalam industri konstruksi dan engineering belum dimanfaatkan secara optimal. Bahkan, sekitar 40 persen inefisiensi operasional disebut sudah terbentuk sejak tahap desain.

Artinya, persoalan gedung yang boros energi tidak selalu dimulai ketika bangunan sudah berdiri. Sebagian masalahnya bahkan telah tertanam sejak awal, ketika keputusan mengenai desain, sistem kelistrikan, tata udara, pencahayaan, hingga pengelolaan utilitas dibuat.

Schneider Electric Berikan Solusi Teknologi Cerdas untuk Bangunan Efesien

Bangunan kemudian menjadi seperti mesin besar yang terus bekerja, tetapi tidak selalu tahu apakah energinya digunakan pada tempat dan waktu yang tepat.

BACA JUGA : Schneider Electric Ajak Pengunjung Wujudkan Rumah Nyaman dan Listrik Aman di IndoBuildTech Expo 2026

Persoalannya semakin penting karena manusia menghabiskan hampir 90 persen waktunya di dalam ruangan. Karena itu, bangunan tidak cukup hanya dituntut hemat energi. Ia juga harus aman, andal, nyaman, sehat, serta mampu terus beroperasi ketika menghadapi gangguan.

Schneider Electric merumuskan tantangan industri bangunan ke dalam empat aspek: keberlanjutan (sustainability), ketangguhan (resiliency), efisiensi (efficiency), dan kenyamanan pengguna (people-centricity). “Keempatnya saling berkaitan. Bangunan yang hemat energi tetapi tidak andal tentu belum ideal. Begitu pula gedung yang canggih secara teknologi tetapi mengabaikan kenyamanan penggunanya,” ujar Reza Syarif, Business Vice President for Buildings, Schneider Electric Indonesia.

Ketika Efisiensi Bukan Lagi Pilihan

Dorongan untuk membuat bangunan lebih efisien kini tidak hanya datang dari kesadaran lingkungan. Regulasi pemerintah juga mulai membuat pengelolaan energi dan bangunan cerdas semakin terukur. Antara lain Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2023 tentang Bangunan Gedung Cerdas, Permen ESDM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Manajemen Energi, dan di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menerbitkan Pergub Nomor 5 Tahun 2026 tentang efisiensi energi dan air pada bangunan.

Schneider Electric Berikan Solusi Teknologi Cerdas untuk Bangunan Efesien

Regulasi tersebut menunjukkan perubahan penting: efisiensi energi perlahan bergeser dari sekadar jargon keberlanjutan menjadi sesuatu yang perlu diukur, dipantau, dilaporkan, dan ditindaklanjuti.

Dengan kata lain, gedung masa depan bukan hanya gedung yang menggunakan teknologi terbaru. Gedung masa depan adalah gedung yang mampu memahami dirinya sendiri melalui data.

Pasar Mulai Mencari Gedung yang Lebih Hijau

Perubahan tersebut juga mulai terlihat dari sisi pasar properti. Permintaan terhadap gedung perkantoran yang lebih ramah lingkungan di Jakarta cenderung meningkat meski pasar perkantoran sedang mengalami stagnasi. Tren sertifikasi hijau bahkan tidak lagi terbatas pada gedung premium dan Grade A, sejumlah gedung Grade B juga mulai melakukan renovasi agar lebih ramah lingkungan.

Associate Director Commercial Jakarta Property Management, Dessy Ika, mengatakan sertifikasi ESG (Environmental, Social, and Governance) yang merupakan proses validasi atau kualifikasi profesional dan perusahaan untuk memastikan standar tata kelola lingkungan, sosial, serta perusahaan dijalankan sesuai kriteria keberlanjutan yang kredibel, mulai menjadi pertimbangan bagi sebagian tenant karena memberikan nilai tambah.

Schneider Electric Berikan Solusi Teknologi Cerdas untuk Bangunan Efesien

Permintaan tenant terhadap ruang kantor di gedung bersertifikat hijau disebut meningkat 1 persen. Memang, angka tersebut belum besar dibandingkan permintaan terhadap gedung non-green building. Namun, arah perubahannya cukup jelas. “Gedung bersertifikasi ESG memang menjadi pertimbangan bagi beberapa tenant,” ujar Dessy.

BACA JUGA : Schneider Electric Diakui sebagai Future of Inclusion Lighthouse melalui Senior Talent Program

Yang menarik, permintaan tersebut banyak datang dari perusahaan multinasional dan sektor energi terbarukan. Gedung hijau juga menawarkan manfaat yang langsung terasa oleh penyewa, seperti penghematan energi dan air yang pada akhirnya dapat menekan biaya operasional.

CEO PT Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono melihat tren tersebut lebih jauh. Menurutnya, permintaan terhadap gedung perkantoran hijau terus berlangsung karena sejumlah perusahaan multinasional memiliki kebijakan wajib untuk menempati gedung yang memenuhi aspek keberlanjutan. “Tren sewa perkantoran di Jakarta semakin dipengaruhi oleh konsep gedung ramah lingkungan,” tuturnya.

Artinya, bangunan hijau mulai memperoleh nilai ekonomi yang lebih nyata. Bukan semata karena label “hijau”, melainkan karena efisiensi energi, pengelolaan air, kualitas lingkungan dalam ruang, dan aspek ESG semakin masuk ke dalam pertimbangan perusahaan ketika memilih tempat beroperasi.

Di sisi lain, pasar perkantoran juga semakin menuntut kualitas, bukan sekadar luas ruang. Laporan Leads Property Services Indonesia menunjukkan perusahaan masih memiliki minat terhadap gedung Grade A dan Premium, sementara strategi rightsizing membuat penyewa lebih fokus pada efisiensi dan optimalisasi ruang.

Kondisi tersebut membuat pemilik gedung menghadapi pertanyaan baru: jika ruang kantor harus lebih efisien, bagaimana gedung dapat bekerja lebih pintar?Dari gedung pintar menuju gedung yang benar-benar efisien. Jawabannya tidak cukup dengan memasang sensor atau mengganti lampu dengan LED.

Digitalisasi bangunan seharusnya membuat berbagai sistem yang selama ini bekerja sendiri-sendiri dapat saling berbicara. Data mengenai konsumsi listrik, kondisi HVAC, pencahayaan, kualitas daya, keamanan, hingga penggunaan ruang perlu dikumpulkan dan diubah menjadi informasi yang bisa digunakan untuk mengambil keputusan.

Inilah pendekatan yang ditawarkan Schneider Electric melalui kampanye “Teknologi Cerdas untuk Bangunan yang Efisien”.

BACA JUGA : Mendukung Tren Hunian Modern, Schneider Electric Hadirkan Vivace E, Solusi Perpaduan Estetika Desain dan Keamanan

Kampanye tersebut bertumpu pada empat pilar yakni Hyper-Efficient, Resilient, Sustainable, dan People-centric. Hyper-Efficient berarti mengoptimalkan sistem dan alur kerja, Resilient memastikan bangunan mampu bertahan dan pulih ketika terjadi gangguan. Sustainable menekankan penghematan sumber daya dan pengelolaan aset. Sedangkan People-centric memastikan teknologi tetap berujung pada kenyamanan dan produktivitas manusia.

Schneider Electric Berikan Solusi Teknologi Cerdas untuk Bangunan Efesien

Fondasi digitalnya antara lain hadir melalui EcoStruxure Building Operation, sebuah platform Building Management System yang mengintegrasikan pemantauan, kontrol, dan optimasi berbagai sistem bangunan, mulai HVAC, kelistrikan, pencahayaan, keamanan hingga energi. Platform ini memberikan visibilitas secara realtime sehingga pengelola dapat mengambil keputusan lebih cepat berdasarkan data.

Di sisi energi, EcoStruxure Power Monitoring Expert (PME) membantu pengelola melihat konsumsi energi dan kualitas daya secara realtime. Data tersebut dapat digunakan untuk menemukan pemborosan lebih cepat, meningkatkan keandalan kelistrikan, sekaligus mengoptimalkan biaya operasional. Integrasi PME dengan EcoStruxure Building Operation memungkinkan kinerja bangunan dipantau secara lebih menyeluruh.

Untuk sektor hotel, Schneider Electric juga menyediakan Guest Rooms Management System (GRMS) yang mengintegrasikan pengendalian pencahayaan, HVAC, tirai, dan perangkat kamar. Sistem tersebut dapat menyesuaikan penggunaan energi berdasarkan tingkat okupansi sehingga kamar yang tidak digunakan tidak harus mengonsumsi energi seperti kamar yang sedang dihuni.

Teknologi digital tersebut kemudian ditopang perangkat keras. Smart Panel, misalnya, mengintegrasikan distribusi daya, proteksi, kontrol, monitoring, dan pengukuran energi dalam satu ekosistem terhubung. Di dalamnya terdapat perangkat seperti MasterPacT MTZ Active, TeSys Tera, PowerLogic Meter, serta perangkat digital lainnya.

Ada pula Altivar HVAC ATH600, variable speed drive yang mengatur kecepatan motor HVAC sesuai kebutuhan beban secara realtime. Dengan demikian, sistem tidak harus bekerja pada kapasitas maksimum ketika kebutuhan sebenarnya lebih rendah. Teknologi ini dirancang untuk membantu mengurangi konsumsi energi dan dapat diintegrasikan dengan BMS.

Sementara itu, UPS memastikan infrastruktur kritis tetap memperoleh pasokan listrik tanpa gangguan. Pada fasilitas seperti rumah sakit, keandalan tersebut bukan sekadar persoalan kenyamanan, tetapi menyangkut keberlangsungan layanan dan keselamatan pengguna.

Teknologi saja tentu belum cukup. Schneider Electric juga menawarkan layanan EcoConsult Walkthrough Assessment dan EcoConsult Energy Efficiency untuk membantu pemilik serta pengelola gedung menemukan peluang peningkatan efisiensi, menganalisis pola konsumsi energi, mengevaluasi kinerja sistem, serta menyusun rekomendasi berbasis data.

Data yang Berubah Menjadi Tindakan

Manfaat pendekatan tersebut terlihat ketika teknologi tidak berhenti sebagai perangkat, tetapi benar-benar digunakan untuk mengubah cara gedung dikelola.

Salah satu contohnya adalah SMC RS Telogorejo. Rumah sakit ini mengimplementasikan Building Management System (BMS) melalui EcoStruxure Building Operation untuk mengintegrasikan pemantauan HVAC, sistem kelistrikan, dan UPS dalam satu command center.

Pengelolaan yang sebelumnya dilakukan secara manual berubah menjadi pemantauan realtime dengan peringatan otomatis dan pemeliharaan yang lebih proaktif. Hasilnya, total pengeluaran listrik turun 5 persen pada 2025 sekaligus membalikkan tren kenaikan biaya listrik yang sebelumnya mencapai 9 persen per tahun. Waktu respons teknis terhadap anomali juga menjadi 60 persen lebih cepat, sementara kepatuhan terhadap standar suhu dan kelembapan ruang operasi mencapai 100 persen.

Sistem dirancang untuk mendukung target efisiensi konsumsi listrik bulanan sebesar 10–15% melalui pengelolaan daya yang lebih terukur.

Pengalaman tersebut memperlihatkan satu hal penting yakni efisiensi tidak selalu berarti mematikan sebanyak mungkin perangkat. Justru sebaliknya, efisiensi berarti mengetahui kapan energi diperlukan, di mana energi digunakan, berapa banyak yang dibutuhkan, dan bagaimana memastikan pengurangan konsumsi tidak mengorbankan fungsi utama bangunan.

Karena itulah Reza Syarif menekankan bahwa efisiensi energi harus dipahami secara lebih luas. “Efisiensi energi bukan sekadar mengurangi konsumsi listrik, tetapi memastikan energi digunakan secara tepat tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna,” ujar Reza.

Menurut Reza, pendekatan tersebut membutuhkan integrasi dan basis data, mulai dari memahami kondisi bangunan hingga mengoptimalkan sistem kelistrikan, otomasi, dan pengelolaan operasionalnya.

Mengubah Gedung Lama, Bukan Hanya Membangun yang Baru

Ada satu tantangan lain yang tidak kalah penting yakni kota-kota tidak dibangun dari gedung baru saja. Jutaan meter persegi bangunan yang telah berdiri akan terus digunakan selama puluhan tahun. Karena itu, upaya dekarbonisasi tidak akan cukup jika hanya berfokus pada proyek-proyek baru.

Green Building Council Indonesia (GBCI) pada 2026 juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penerapan bangunan hijau yang tangguh terhadap perubahan iklim. Ketua Umum GBCI, Ignesjz Kemalawarta menyebut pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menghadirkan bangunan yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan.

Hal tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk melakukan retrofit atau modernisasi terhadap gedung eksisting. Teknologi digital memungkinkan bangunan lama mendapatkan “kehidupan kedua” tanpa harus selalu dibongkar dan dibangun kembali.

Pemilik gedung dapat memulai dari langkah yang sederhana yakni mengukur konsumsi energi, mengetahui titik pemborosan, memantau kualitas daya, mengoptimalkan HVAC, kemudian mengintegrasikan berbagai sistem secara bertahap. Schneider Electric sendiri memetakan transformasi tersebut melalui tiga tahap besar yakni strategize, digitize, dan decarbonize.

Langkahnya mencakup penyusunan peta jalan dekarbonisasi, pengukuran dan pemantauan energi serta karbon, pengurangan konsumsi melalui otomasi, peningkatan sistem dan infrastruktur kelistrikan, hingga pemanfaatan energi terbarukan.

Dengan pendekatan itu, teknologi bukan lagi aksesori yang ditempelkan pada gedung. Teknologi menjadi sistem saraf yang membantu gedung memahami kondisi dan kebutuhannya sendiri.

Saat Gedung Mulai “Berpikir”

Pada akhirnya, masa depan bangunan bukan hanya tentang gedung yang terlihat modern dari luar. Gedung yang benar-benar modern adalah gedung yang mampu menggunakan energi secara tepat, mengetahui ketika sebuah peralatan mulai bermasalah, menyesuaikan penggunaan energi dengan kebutuhan penghuni, menjaga kualitas lingkungan dalam ruang, dan tetap beroperasi ketika terjadi gangguan. Pasar mulai mengarah ke sana. Regulasi mulai mendorongnya. Dan teknologi membuatnya semakin mungkin.

Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, dalam forum yang digelar GBCI pada 2026, mengatakan proyek properti yang menerapkan prinsip keberlanjutan mulai mendapat perhatian lebih besar dari investor, penyewa, dan institusi keuangan seiring meningkatnya fokus pada ESG.

Menurutnya, bangunan hijau bukan lagi hanya soal kepatuhan regulasi atau target dekarbonisasi, tetapi juga strategi bisnis untuk meningkatkan efisiensi operasional, daya saing, dan nilai aset dalam jangka panjang.

Dengan demikian, perdebatan tentang bangunan hijau perlahan bergeser. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi tersebut diperlukan, melainkan seberapa cepat pemilik dan pengelola gedung mampu mengadopsinya.

Sebab, setiap kilowatt jam yang tidak terbuang bukan hanya berarti penghematan biaya. Ia juga berarti lebih sedikit energi yang harus diproduksi, lebih sedikit emisi yang dilepaskan, dan lebih kecil tekanan terhadap lingkungan.

Di tengah kota yang semakin padat dan kebutuhan energi yang terus meningkat, mungkin sudah waktunya kita memandang gedung dengan cara berbeda. Bukan sebagai benda mati yang hanya menyediakan ruang bagi manusia, tetapi sebagai sebuah sistem hidup yang bisa dipantau, belajar, beradaptasi, dan bekerja semakin efisien.

Itulah inti dari bangunan cerdas, bukan membuat gedung semakin rumit, melainkan membuatnya semakin tepat yakni tepat menggunakan energi, tepat merespons kebutuhan, tepat menjaga keandalan, dan pada akhirnya, tepat memperlakukan bumi sebagai bagian dari sistem yang harus dijaga.

Schneider Electric menyebut visi tersebut sebagai bangunan yang resilient, hyper-efficient, sustainable, dan people-centric. Dan ketika data, digitalisasi, otomasi, serta pengelolaan energi terintegrasi mulai bekerja bersama, sebuah gedung tidak lagi sekadar menjadi tempat manusia beraktivitas. Ia mulai menjadi bagian dari solusi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button