Sektor Industri Kuartal II 2026 Tetap Tangguh, Permintaan Lahan dan Pabrik Siap Pakai Terus Tumbuh
Penyerapan lahan industri masih terkonsentrasi di wilayah Bekasi dan Karawang.

JAKARTA, KabarProperti.id – Sektor properti industri pada kuartal II 2026 menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah berbagai tantangan global dan domestik. Permintaan lahan industri, pabrik siap pakai (PSP), serta pergudangan modern masih mencatatkan tren positif, didorong oleh ekspansi manufaktur, logistik, data center, dan perkembangan ekosistem kendaraan listrik (EV).
Berdasarkan riset PT Leads Property Services Indonesia (Leads Property), pasokan lahan industri di kawasan Jabodetabek dan sekitarnya mencapai sekitar 14.000 hektare pada kuartal II 2026, meningkat sekitar 50 hektare dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sementara itu, penyerapan lahan industri selama periode tersebut tercatat sekitar 45 hektare, dengan tingkat penjualan yang tetap tinggi di level 91,5 persen. Harga jual lahan industri juga terus mengalami penguatan hingga mencapai rata-rata Rp3,2 juta per meter persegi.
Menurut Esti Susanti, Head of Industrial Services Leads Property, saat Media Breafing di Halo Space @ Indonesia Stock Exchange Building, Kamis (18/6), sektor industri masih menjadi salah satu segmen properti komersial yang paling resilien di Indonesia.
BACA JUGA : Sektor Rumah Tapak Kuartal II-2026 Tetap Tangguh, Pasokan dan Permintaan Tumbuh Seimbang
“Permintaan industri tetap didukung oleh aktivitas manufaktur, logistik, dan data center. Tingkat okupansi yang tinggi menunjukkan bahwa pasar masih memiliki fundamental yang kuat,” ujarnya.
Bekasi dan Karawang Masih Mendominasi Permintaan
Leads Property mencatat bahwa penyerapan lahan industri masih terkonsentrasi di wilayah Bekasi dan Karawang yang selama ini menjadi pusat aktivitas manufaktur nasional. Selain itu, sektor data center, elektronik, logistik, dan kendaraan listrik menjadi pendorong utama permintaan.
Di sisi lain, keterbatasan lahan di kawasan industri matang mulai mendorong pengembangan pasokan baru ke wilayah Purwakarta dan koridor industri lainnya di Jawa Barat.
“Pasar mulai bergerak ke lokasi-lokasi alternatif seiring semakin terbatasnya ketersediaan lahan di kawasan industri utama. Purwakarta menjadi salah satu wilayah yang mulai menarik perhatian pengembang maupun investor,” kata Esti.
Permintaan terhadap fasilitas industri modern dan siap pakai juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Tantangan Sektor Industri Kuartal II 2026
Meski prospeknya masih positif, Leads Property mengidentifikasi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi oleh pelaku industri.
Pertama, investor cenderung lebih berhati-hati untuk berkomitmen dalam investasi jangka panjang berupa pembangunan aset industri baru, baik pabrik maupun fasilitas pergudangan.
Kedua, kenaikan biaya konstruksi berpotensi menekan pengembangan proyek industri baru. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi keputusan developer dalam membangun pabrik siap pakai maupun gudang modern.
Ketiga, industri manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor cenderung lebih konservatif dalam melakukan ekspansi akibat fluktuasi nilai tukar dan ketidakpastian ekonomi global.
Peluang Industri Masih Terbuka Lebar
Di balik berbagai tantangan tersebut, peluang pertumbuhan sektor industri masih sangat besar.
Leads Property melihat permintaan terhadap bangunan pabrik siap pakai dan pergudangan modern berpotensi terus meningkat seiring kebutuhan perusahaan untuk mempercepat operasional bisnis tanpa harus membangun fasilitas dari awal.
Selain itu, tingkat okupansi kawasan industri diperkirakan terus menguat, sementara harga sewa tetap stabil karena pasokan baru yang terbatas.
Pertumbuhan sektor ekspor nasional juga diyakini akan menciptakan kebutuhan terhadap fasilitas produksi baru.
“Terbatasnya pasokan baru justru menciptakan peluang bagi pemilik aset industri eksisting. Tingkat hunian yang tinggi akan menjaga stabilitas harga sewa dan meningkatkan daya tarik investasi pada sektor ini,” jelas Esti.
Outlook Industri 2026: Permintaan Tahunan Capai 200 Hektare
Untuk keseluruhan tahun 2026, Leads Property memproyeksikan pasokan lahan industri akan meningkat menjadi sekitar 14.100 hektare, atau bertambah sekitar 200–250 hektare secara tahunan.
Di sisi permintaan, penyerapan lahan diperkirakan mencapai 180–200 hektare sepanjang tahun. Tingkat penjualan diproyeksikan tetap bertahan di kisaran 91,5 persen, sementara harga jual lahan industri diperkirakan stabil pada level sekitar Rp3,2 juta per meter persegi.
Esti menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor industri masih menjadi salah satu pilihan investasi properti yang menarik dibandingkan segmen lainnya.
“Dengan tingginya permintaan dari sektor manufaktur, logistik, data center, dan kendaraan listrik, pasar industri diperkirakan tetap tumbuh secara sehat sepanjang 2026. Sektor ini masih menjadi salah satu sektor properti yang paling kuat menghadapi dinamika ekonomi,” tutupnya.




