Korporasi

Strategi Baru TRIN: Target Marketing Sales Rp6,8 Triliun pada 2030 lewat Proyek Skala Kota dan Recurring Income

Transformasi bisnis TRIN, dari high-rise ke township Sentul.

JAKARTA, KabarProperti.idPT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) menyiapkan babak baru strategi bisnis dengan target marketing sales menembus Rp6,83 triliun pada 2030. Berbeda dari fase sebelumnya yang identik dengan pengembangan apartemen dan kondominium (high-rise building), kini emiten properti tersebut berfokus pada proyek berskala kota (township).

Direktur TRIN, Bong Chandra, saat buka puasa bersama di Jakarta, Selasa (24/2), mengungkapkan bahwa pandemi Covid-19 menjadi momentum refleksi bagi Perseroan untuk melakukan reformasi model bisnis. Menurutnya, pola lama yang berorientasi pada siklus cepat—beli tanah, bangun, jual—perlu disesuaikan.

TRIN kini mengembangkan model bisnis skala kota yang dinilai lebih berkelanjutan dan memiliki potensi nilai tambah jangka panjang. Langkah ini diwujudkan melalui pengembangan Sequoia Hills di Sentul, Jawa Barat.

Proyek seluas 95 hektare tersebut menjadi township terbesar yang pernah digarap Perseroan, dengan estimasi nilai pengembangan mencapai Rp16 triliun—sekitar 10 kali lipat dibandingkan proyek-proyek TRIN sepanjang 2009–2020.

Kawasan ini dirancang sebagai hunian premium berbasis green development, dengan alokasi 60–70% area untuk ruang terbuka hijau. TRIN menegaskan komitmennya menjaga ekosistem alami, termasuk mempertahankan pepohonan eksisting, danau, serta area resapan air.

Hingga kini, tiga klaster telah berjalan dan akan segera memasuki tahap pengembangan klaster keempat.

BACA JUGA : Tandai Ekspansi Sektor Hospitality, Triniti Land Group Teken MoU Strategis dengan Artotel Group

Dampak PSAK 72 terhadap Kinerja dan Strategi Pengakuan Pendapatan

Ishak Chandra, Direktur Utama TRIN, menjelaskan bahwa perubahan arah bisnis juga dipengaruhi oleh penerapan PSAK 72 yang efektif berlaku sejak 1 Januari 2020.

PSAK Nomor 72 tentang Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan mengatur bahwa pendapatan baru dapat diakui saat unit telah diserahterimakan (handover). Artinya, meskipun marketing revenue tercatat tinggi, pendapatan tersebut belum bisa dibukukan sebelum proses serah terima selesai.

Kondisi ini berdampak pada laporan keuangan TRIN sejak 2020, karena ada jeda waktu cukup panjang antara penjualan dan pengakuan pendapatan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Perseroan menetapkan KPI baru yang menekankan percepatan pembangunan dan serah terima unit agar revenue bisa diakui lebih cepat.

Proyeksi Marketing Sales 2026–2030: Menuju Rp6,83 Triliun

Dalam periode 2026 hingga 2030, TRIN memproyeksikan pertumbuhan marketing sales yang signifikan, yakni pada 2026 sekitar Rp1,82 triliun dan pada 2030 sekitar Rp6,83 triliun.

Fase awal proyeksi ini disebut sebagai periode normalisasi, di mana kinerja penjualan diperkirakan pulih secara bertahap seiring penyesuaian portofolio proyek dan kontribusi dari township Sentul.

Strategi ini menjadi fondasi utama untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang sekaligus memperkuat fundamental keuangan Perseroan.

Ekspansi Bisnis: Logistik, Data Center, dan Luxury Hospitality

Tak hanya mengandalkan penjualan properti, TRIN juga memperluas lini bisnis demi meningkatkan recurring income atau pendapatan berulang.

Salah satu langkah strategis adalah menggandeng Artotel Group dalam pengembangan dan pengelolaan hotel di sejumlah proyek TRIN dan TRUE (anak usaha TRIN). Kolaborasi ini mencakup perencanaan hingga operasional hotel, dengan potensi recurring income mencapai Rp1,5 triliun dalam 10 tahun.

Hotel yang dikembangkan tidak hanya berfungsi sebagai akomodasi, tetapi juga dirancang sebagai destinasi gaya hidup yang mampu meningkatkan nilai kawasan.

Selain hospitality, TRIN juga bersiap masuk ke berbagai sektor. Pertama Logistik yakni pengembangan logistic center untuk menjawab kebutuhan distribusi dan e-commerce yang terus tumbuh. Kedua, Data Center & Space Provider yakni menyasar kebutuhan infrastruktur digital di kawasan pusat bisnis, seiring percepatan transformasi digital. Ketiga, Luxury Hospitality berbasis Green Development yakni menggabungkan konsep ultra-luxury dengan keberlanjutan lingkungan.

Menurut manajemen, ketiga sektor tersebut dinilai memiliki prospek jangka panjang yang kuat, terutama didorong oleh pertumbuhan ekonomi perkotaan, digitalisasi, dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas hidup.

Fokus Recurring Revenue untuk Ketahanan Bisnis

Ke depan, arah proyek-proyek TRIN akan lebih banyak ditujukan untuk menghasilkan recurring revenue, seperti hotel, pusat komersial, dan gedung perkantoran. Namun, fokus utama tetap pada tiga sektor kunci: logistik, data center, dan luxury hospitality.

Dengan transformasi model bisnis, pengembangan township Sequoia Hills, serta diversifikasi ke sektor infrastruktur dan hospitality, TRIN menargetkan pertumbuhan agresif namun berkelanjutan hingga 2030.

Strategi ini sekaligus menjadi upaya Perseroan untuk memperkuat daya saing di industri properti nasional dan menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil di tengah dinamika pasar.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button