Event

Dihadiri 18.000 Pengunjung, AREBI Sukses Gelar The Biggest Real Estate Summit 2020

Rabu, 18 November 2020 | 06:00 WIB

JAKARTA, KabarProperti.idAsosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) sukses menggelar perhelatan akbar “The Biggest Real Estate Summit 2020” bertema “Grabbing And Winning The Future Of Property Industry” yang dilakukan langsung secara virtual di kanal Youtube DPP AREBI pada Selasa, 17 November 2020, pukul 09.30 WIB hingga 16.00 WIB. Pengunjung melebihi target yakni sebanyak 18.000 pengunjung, dari target 10.000 pengunjung.

Lukas Bong, Ketua Umum DPP AREBI mengatakan, “Terima kasih…terima kasih..terima kasih. Tiga kali ataupun ribuan ucapan terima kasih kami tidak akan pernah cukup untuk membalas apresiasi atas dukungan Bapak/ Ibu sehingga perhelatan akbar AREBI Summit 2020 dapat berlangsung lancar dan sukses.”

Ditambahkan Lukas Bong, “Jerih payah dan kerja keras seolah terbayarkan melihat antusiasme dan tanggapan yang luar biasa dari para pengunjung yang mencapai angka 18.000. Untuk ke sekian kalinya, kembali AREBI telah mampu memberikan sumbangsih yang berharga dan bermanfaat bagi industri properti di tanah air. Semoga, ini akan menjadi tolak ukur bagi penyelenggaraan perhelatan AREBI di kemudian hari .AREBI dari Kita, oleh Kita, untuk Semua.”

The Biggest Real Estate Summit 2020

Baca juga : AREBI Targetkan The Biggest Real Estate Summit 2020 Secara Online Diikuti 10 Ribu Peserta

Ketua Panitia The Biggest Real Estate Summit 2020 Daniel Handojo mengatakan, banyaknya pengunjung lantaran kegiatan The Biggest Real Estate Summit 2020 dilakukan secara online sehingga bisa menjangkau lebih luas. Apalagi tidak dikenakan biaya apapun alias gratis. Selain itu kegiatan ini bisa menambah pengetahuan dan meningkatkan profesionalisme anggota AREBI. Selain itu juga memberikan pengetahuan kepada masyarakat umum terkait properti.

Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan RI, Suhanto, mewakili Menteri Perdagangan RI Agus Suparmanto, mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar bagi usaha broker properti. Namun agar bisa menangkap peluang dan terus berkembang broker properti harus mengikuti perkembangan jaman dan menggunakan teknologi digital. Apalagi Indonesia merupakan negara paling banyak pengguna internet ke empat di dunia. “Penggunaan teknologi digital sesuai dengan tuntutan masyarakat kini yang menginginkan pelayanan yang praktis dan cepat,” ujar Suhanto.

Suhanto juga menekankan agar broker properti menaati peraturan yang telah dibuat, seperti memiliki SIU-P4 dan sertifikat atau lisensi, agar industri broker properti terus berkembang. Berkembangnya industri broker properti akan berdampak positif karena menyerap banyak tenaga kerja.

“Kami menyambut baik upaya AREBI dan LSP BPI yang melakukan kegiatannya, seperti pelatihan dan uji kompetensi, secara online akibat pandemi Covid-19 sehingga upaya peningkatan profesionalisme broker properti tidak berhenti. Ini juga sudah sesuai dengan tuntutan jaman. Kami juga akan terus mendorong semakin banyak broker properti yang mengikuti aturan karena proses memiliki izin sekarang mudah dan cepat,” ujar Suhanto.

The Biggest Real Estate Summit 2020

Baca juga : Jadi Penggerak Perekonomian, Sektor Properti Butuh Perhatian Serius Pemerintah

Bisnis Properti Tidak Mati

Dalam main talkshow, hadir pembicara Hendro S. Gondokusumo (Wakil Ketua Umum Bidang Properti KADIN dan Presiden Direktur PT Intiland Development Tbk.), Budiarsa Sastrawinata (President FIABCI Indonesia dan Managing Director Ciputra Group), Totok Lusida (Ketua Umum Real Estate Indonesia/ REI), Lukas Bong (Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia / AREBI dan Praktisi Broker Properti). Tampil sebagai Moderator adalah Handoko Wignjowargo (Maestro Consulting dan Majelis Kode Etik DPP AREBI).

Keempat narasumber sepakat bahwa pandemi Covid-19 tidak membuat industri properti mati. Hanya melambat saja. “Manusia selalu butuh properti. Up and down dalam bisnis itu normal. Tidak mungkin up atau down terus.Kebutuhan properti tidak akan hilang, tetapi berubah. Seperti mal, tetap ada dan dibutuhkan, tetapi kompisisi toko lebih sedikit dan lebih banyak life style karena cara belanja dan makan berubah. Jadikan perubahan menjadi peluang. Krisis jangan putus asa dan harus terus berusaha,” ujar Budiarsa Sastrawinata.

Hendro S. Gondokusumo pun sependapat. “Kebutuhan properti masih tinggi. Cari terus kesempatan. Saat ini waktu untuk terus belajar. Berani berubah. Cari apa yang sekarang cocok dalam kondisi saat ini. Singapura setelah lockdown penjualan naik. Properti adalah bisnis yang besar. Menjadi broker properti harus serius, jangan hit and run. Pembeli adalah bos buat broker properti. Tidak ada persaingan, bagaimana membuat yang terbaik, harus berani saling sharing, menambah ilmu dan pengalaman.”

Baca juga : Riset REI DKI Jakarta, Butuh Gerak Cepat Pemerintah Gairahkan Industri Realestat

Untuk meningkatkan profesionalisme broker properti, AREBI, kata Lukas Bong, akan terus membuat kegiatan yang bisa menambah pengetahuan dan ketrampilan sehingga bisa bertahan dan terus berkembang dalam kondisi apapun. “Pandemi Covid-19 memang mempengaruhi sekitar 25 ribu broker properti yang tergabung di 1.200 kantor broker di 12 DPD AREBI. Namun, masih banyak peluang yang ada dan bisa ditangkap saat ini. Untuk itu broker properti harus bekerja secara professional untuk bisa menangkap peluang yang ada,” ujar Lukas Bong.

Totok Lusida berharap broker properti di Indonesia bisa memberikan pelayanan yang menyeluruh atau one stop service. “Broker properti jangan hanya menjual unit. Tetapi harus bisa memberikan pelayanan yang menyeluruh sehingga klien puas dan pasti akan kembali menggunakan jasanya dan merekomendasikan ke pihak lain. Bisnis properti memiliki potensi yang besar dan itu harus bisa ditangkap oleh broker properti,” ujar Totok Lusida.

Lebih lanjut Totok Lusida  mengatakan, untuk mendorong bisnis properti kembali bergairah, Real Estat Indonesia (REI) meminta agar pemerintah memberikan dukungan yang lebih luas lagi untuk menyelamatkan sektor ini karena sektor properti merupakan lokomotif ekonomi yang memberikan multiplier effect yang besar. Antara lain meminta adanya penundaan cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pasalnya, banyak debitur yang tidak mampu bayar cicilan karena dirumahkan bahkan jadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi Covid-19.

Baca juga : Pentingnya Sertifikasi Profesi Broker Properti

Lalu meminta adanya pemberian fasilitas dalam bentuk penghapusan sanski administrasi perpajakan berupa bunga atau sunset policy. “Kita minta ada sunset policy supaya uang yang belum dilaporkan dalam SPT itu bisa menggairahkan perputaran ekonomi termasuk di bidang real estat karena yang kemarin di tax amnesty itu kan yang ikut baru 15%. Jadi masih ada uangnya orang Indonesia di perusahaan yang 85% belum dilaporkan. Ini kan jadi stuck, daripada kita utang bank, kasih lah relaksasi,” ucapnya.

Di samping itu, Totok Lusida  sedang menunggu peraturan pelaksana dari Undang-undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja khusus sektor properti. Dia berharap Omnibus Law bisa memudahkan investasi di sektor  properti. “Omnibus law diharapkan bisa memberikan kemudahan perijinan karena selama ini complicated, lama dan mahal,” ujar Totok Lusida.

The Biggest Real Estate Summit 2020 juga menghadirkan kelas-kelas online dengan materi yang  dibawakan secara eksklusif, antara lain oleh Darmadi Darmawangsa (Motivator, Presiden Direktur ERA Indonesia), Hotman Paris Hutapea (Pengacara Kepailitan), Erwin Kallo (Property Lawyer), Ligwina Hananto (Lead Financial Trainer QM Financial), Ernest Prakasa (Comedian, Movie Actor), Aldo Rambie (Vertical Lead, Facebook Indonesia), dan Maria Herawati Manik (Country Manager Rumah123.com).

Baca juga : Belanja Infrastruktur Kementerian PUPR Hingga 1 November 2020 Capai Rp59,47 Triliun

Konsumen dan Broker Properti Harus Paham Aspek Hukum Properti

Terkait hukum, Hotman Paris Hutapea menjelaskan mengenai kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang kini marak menimpa perusahaan pengembang properti. “Pembeli harus berhati-hati jika tidak ingin mengalami kerugian akibat pengembang yang pailit. Antara lain dengan segera melakukan Akta Jual Beli (AJB),” ujar Hotman Paris Hutapea.

The Biggest Real Estate Summit 2020

Hal yang sama dikatakan Erwin Kallo.  “Pembeli dan broker properti harus mengerti dan memahami aspek hukum properti jika tidak ingin mendapatkan kerugian di kemudian hari,” kata Erwin Kallo.

Selain itu Ewin Kallo juga mengatakan, saat ini konsumen sedang galau, wait and see, tidak hanya karena Covid-19 tetapi juga karena maraknya keterlambatan serah terima dan beberapa pengembang yang dipailitkan. Sayangnya sampai saat ini ia tidak melihat upaya yang serius dan sistematis dari stake holder properti untuk mengatasi kondisi itu.

“Kalau tidak ada upaya sistematis dari stake holder properti untuk mengatasi kegalauan konsumen maka konsumen akan membeli properti yang sudah jadi, sudah ada sertifikatnya, tidak mau mengambil risiko. Mahal sedikit tidak apa-apa, yang penting aman. Konsumen tidak hanya mencari yang harganya murah tapi juga aman secara hukum,” ujar Erwin.

Baca juga : Kementerian PUPR Siap Lelang Sembilan Ruas Jalan Tol

Ditambahkan Erwin Kallo, “Ini baru fenomena. Belum mewabah. Namun jangan anggap enteng  Kalau fenomena ini tidak ditangani dengan baik, besar kemungkinan orang tidak mau membeli proyek pre project selling atau penjualan sebelum properti tersebut dibangun. Terjadi kehilangan kepercayaan dari konsumen terhadap pre project selling. Bukan terhadap properti. Properti orang tetap butuh dan sebagai objek investasi tetapi orang akan memilih dan membeli properti yang sudah jadi.”

The Biggest Real Estate Summit 2020

Kalau mau masyarakat kembali percaya, kata Erwin Kallo, harus melihat apa problematika yang dihadapi konsumen dan dicari obatnya. “Legal standing konsumen properti sangat lemah. Posisi tawar yang tidak seimbang pada saat PPJB. Tidak ada tawar menawar. Pada saat membayar DP, belum liat PPJB. Pas PPJB terjadi masalah, deadlock, tidak mau tanda tangan PPJB, minta uang kembali tidak bisa. Juga perjanjian-perjanjian sepihak. Itu fakta. Obatnya adalah harus bikin seimbang posisi tawarnya.  Developer harus memberikan PPJB yang bisa dinegoisasikan. Sudah tidak jaman lagi konsumen dikasih PPJB dan tinggal tanda tangan. PPJB diberikan di depan saat konsumen memberikan DP,” ujar Erwin Kallo.

Acara The Biggest Real Estate Summit 2020 juga dimanfaatkan sebagai perayaan HUT AREBI ke-28. “Semoga AREBI semakin berkembang di masa datang. Membuat broker makin professional dan bisa mengikuti perkembangan dan perubahan jaman dan menggunakan teknologi sebagai sarana pemasaran properti.,” ujar Hartono Sarwono, Anggota Dewan Kehormata dan Ketua Umum AREBI 2015-2018.

The Biggest Real Estate Summit 2020

Berbagai hadiah diberikan kepada pengunjung acara Acara The Biggest Real Estate Summit 2020 seperti Sepeda Motor, Logam Mulia, Handphone, dll, Dalam kesempatan ini, AREBI juga menggelar AREBI Got Talent.

 

 

 

 

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close