Paradise Indonesia Optimistis Jaga Pertumbuhan Double Digit Lewat Intensifikasi Capex dan Peningkatan Aset
Dengan berbagai strategi, target INPP double digit growth dan double digit profitability.

JAKARTA, KabarProperti.id – PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau Paradise Indonesia optimistis menatap kinerja tahun 2026 dengan target pertumbuhan dan profitabilitas double digit. Optimisme tersebut ditopang oleh strategi intensifikasi belanja modal (capital expenditure/capex) serta peningkatan kualitas dan fungsi aset eksisting.
Direktur PT Indonesian Paradise Property Tbk,Surina, mengungkapkan bahwa kinerja bisnis Perseroan hingga sembilan bulan 2025 telah menyamai capaian sepanjang tahun 2024, meski angka tersebut masih bersifat unaudited.
“Hingga September 2025, capaian INPP mencapai Rp1,3 triliun, dengan kontribusi 33 persen dari segmen komersial, 36 persen perhotelan, dan 31 persen dari penjualan properti,” ujar Surina saat media gathering di Jakarta, Kamis (30/1).
BACA JUGA : Jurus Jitu Paradise Indonesia Visioner Mengembangkan Properti Ikonik
Surina menambahkan, pada 2025 INPP mengalokasikan capex sekitar Rp1 triliun, terutama untuk pembangunan proyek besar seperti Antasari Place Jakarta dan pengembangan properti di Semarang. Sementara itu, capex tahun 2026 ditetapkan sekitar Rp400 miliar yang difokuskan pada ekspansi dan renovasi aset yang telah beroperasi.
“Dengan strategi tersebut, kami optimistis pertumbuhan tahun ini bisa mencapai 20–30 persen,” katanya.
Sementara itu, Presiden Direktur dan CEO PT Indonesian Paradise Property Tbk, Anthony Prabowo Susilo, menegaskan bahwa strategi utama perusahaan pada 2026 adalah menjaga pertumbuhan berkelanjutan melalui intensifikasi aset, bukan sekadar ekspansi lahan.
“Kami melakukan improvement pada aset yang sudah ada. Contohnya, Sheraton kami kembangkan dengan penambahan spa wing tersendiri. Di FX Sudirman kami tambah meeting room, lalu 23 Paskal Bandung kami lakukan extension yang menambah luas sekitar 20 persen,” jelas Anthony.
Menurutnya, konsep intensifikasi ini dinilai lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan ekspansi lahan secara agresif. Selain itu, INPP juga mengembangkan proyek mixed-use di Balikpapan dengan konsep CBD zone berkarakter mid to low density.
“Dengan strategi ini, target kami jelas, yakni double digit growth dan double digit profitability,” tegasnya.
Anthony juga menyampaikan bahwa tingginya permintaan di 23 Paskal Bandung, yang memiliki waiting list hingga 2–3 tahun, mendorong perusahaan menambah net leasable area. Pendapatan INPP turut ditopang oleh penjualan unit Antasari Place, di mana dari total 980 unit kini tersisa sekitar 70 unit, dengan 80 persen penjualan pada 2025 memanfaatkan insentif PPN DTP.
BACA JUGA : Cetak Kinerja Gemilang di 2024, Paradise Indonesia Optimistis Raih Pertumbuhan Hingga 20% di 2025
“Kami juga mulai merencanakan pembangunan tower kedua Antasari Place. Selain itu, INPP sukses menerbitkan obligasi pada awal 2025 dan melanjutkannya dengan kerja sama strategis bersama Hankyu Hanshin,” ujar Anthony.
Untuk pengembangan di Semarang, INPP memandang kota tersebut sebagai commercial hub Jawa Tengah yang masih memiliki potensi pertumbuhan besar dalam 10 tahun ke depan. Dari rencana awal 37 ribu meter persegi net leasable area, pengembangan ditingkatkan menjadi 48 ribu meter persegi karena tingginya minat pasar.
“Struktur pembiayaan kami 30:70, dengan 70 persen berasal dari perbankan, di mana Bank BCA menjadi pendukung utama. Setiap penjualan 1 dolar mampu memberikan dampak sekitar 2–3 dolar terhadap pendapatan berulang (recurring income) kami,” pungkas Anthony.




